Senin, 09 Juni 2014

Gangguan Psikologis Ibu pada Masa Nifas serta Contoh Kasus yang pernah terjadi pada masa Nifas

Patologi kebidanan adalah salah satu masalah dalam pelayanan kesehatan dan harus dikenali gejalanya sejak dini. Pada bab ini kita sebagai bidan harus bisa mengidentifikasi gangguan psikologi post partum diantaranya depresi post partum, post partum blues, dan post partum psikosa. Post partum atau masa niifas adalah masa 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai enam minggu berikutnya. Waktu yang tepat dalam rangka pengaeasam post partum adalah 2-6 jam, 2 jam-6 hari, 2 jam-6 minggu, (atau boleh juga disebut 6 jam, 6 hari, 6 minggu). Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi , perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya.

RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi gangguan psikologi postpartum yaitu pada depresi post partum, post partum blues, dan post partum psikosa ?
2. Apakah penyebab gangguan psikologi postpartum ?
3. Bagaimana penanggulangan dari gangguan-gangguan psikologi postpartum ?
4. Bagaiman contoh kasus pada setiap gangguan-gangguan psikologi postapartum ?

 C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk melengkapi tugas dari mata kuliah “Psikologi Kebidanan”.
2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan terhadap pembaca dan begitu pula dengan penulis sendiri.
 . Untuk mempelajari dan mengetahui lebih jelas mengenai masalah GANGGUAN PSIKOLOGI POST PARTUM. BAB II PEMBAHASAN GANGGUAN PSIKOLOGIS MASA NIFAS Gangguan psikologis masa nifas yaitu dimana ibu nifas usdah mampu menyesuiakan diri dengan perubah-perubahan yang terjadi setelah melahirkan. Gangguan psikologis pada masa nifas terbagi menjadi : post partum blues, depresi postpartum, dan psikosis post partum. A. Post Partum blues Menurut ambarwati (2009) yaitu perasaan sedih yang dialami oleh ibu setelah melahirkan, berkaitan dengan bayinya.
 Post partum blues atau sering juga disebut Maternity blues atau sindrom ibu baru, dimengerti sebagai suatu sindrom gangguan efek ringan pada minggu pertama setelah persalinan dengan ditandai dengan gejala-gelaja berikut ini:
1. Reaksi depresi misalnya Sedih, sering menangis, cemas, pelupa.
2. Cepat marah, mudah tersinggung.
3. Gangguan tidur dan nafsu makan.
4. Cenderung menyalahkan diri sendiri
5. Mood cepat berubah, cepat merasa sedih, dan cepat pula menjadi gembira.
6. Perasaan terjebak dan juga marah terhadap pasangannya, serta bayinya. Puncak dari post partum blues ini 3-5 hari setelah melahirkan dan berlangsung dari beberapa hari sampai 2 minggu. Post partum blues tidak menganggu kemapuan seorang wanita untik merawat bayinya sehingga ibu dengan post partum blues masih bisa merawat bayinya.

 Faktor-faktor penyebab timbulnya post partum blues adalah sebagai berikut:
1. Faktor hormonal, berupa perubahan kadar estrogen progesterone, prolaktin, serta estriol yang terlalu rendah. Kadar estrogen turun secara tajam setelah melahirkan dan ternyata estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim non-adrenalin maupun serotin yang berperan dalam suasana hati dan kejadian depresi.
 2. Ketidak nyaman fisik yang dialami sehingga menimbulkan perasaan emosi pada wanita pasca-melahirkan misalnya: rasa sakit akibat luka jahit atau bengkak pada payudara.
3. Ketidak mampuan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
4. Faktor umur dan jumlah anak.
5. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinannya.
 6. Latar belakang psikososial wanita tersebut, misalnya: tingkat pendidikan, kehamilan yang tidak diinginkan, status perkawinan, atau riwayat gangguan jiwa pada wanita tersebut.
7. Dukungan yang diberikan dari lingkungan, misalnya dari suami, orang tua dan keluarga.
8. Stres yang dialami oleh wanita itu sendiri misalnya: karena belum bisa menyusui bayinya, rasa bosan terhadap rutinitas barunya.
 9. Kelelahan pasca-bersalin.
10. Ketidak siapan terhadap perubahan peran yang terjadi pada wanita tersebut.
11. Rasa memiliki bayinya yang terlalu dalam sehingga takut yang berlebihan akan kehilangan bayinya.
12. Masalah kecemburuan dari anak yang terdahulunya. Beberapa cara untuk mengatasi post partum blues adalah sebagai berikut:
1. Persiapan diri yang baik selama kehamilan untuk menghadapi masa nifas.
2. Komunikasikan segala permasalahan atau hal yang ingin disampaikan.
3. Selalu membicarakan rasa cemas yang dialami.
 4. Bersikap tulus serta ikhlas terhadap apa yang telah dialami dan berusaha melakukan peran barunya sebagai seorang ibu yang baik.
5. Cukup istirahat.
6. Menghindari perubahan hidup yang drastis.
7. Berolahraga ringan.
8. Berikan dukungan dari semua keluarga, suami, atau saudara.
9. Konsultasikan pada tenaga kesehatan atau orang yang profesional agar dapat memfasilitasi faktor resiko lainnya selama masa nifas dan membantu dalam melakukan upaya pengawasan.

 B. Depresi Post Partum Depresi Post Partum ini terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selam 30 hari, dapat terjadi kapanpun bahkan sampai 1 tahun kedepan, dengan ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Ibu dipenuhi rasa sedih dan depresi yang disertai dengan menangis tanpa sebab.
2. Tidak memiliki tenaga atau tenaga hanya sedikit saja untuk melakukan aktivitas.
3. Tidak dapat berkonsentrasi.
4. Ada gangguan pola tidur atau istirahat.
5. Perubahan nafsu makan dan perubahan mental psikisnya.
6. Terkadang muncul fobia. Depresi Post Partum ini disebabkan oleh beberapa faktor-faktor penyebab depresi ini dapat terjadi, diantaranya:
1. Faktor konstitusional ( kurangnya dukungan orang-orang disekitarnya misalnya keluarga, atau lingkungan tempat ibu bekerja).
2. Faktor fisik (terkait perubahan bentuh tubuh setelah melahirkan).
3. Faktor psikologi (terkait ibu yang tidak mampu beradaptasi dengan peran yang baru dijalaninya). Beberapa cara untuk mengatasi depresi post partum adalah sebagai berikut :
 1. Screening test, dimana alat ini digunakan untuk melihat sebagaimana tingkat depresi seseorang.
 2. Ada dukungan psikologis.
3. Istirahat yang cukup.
 4. Diperlukan dukungan psikolog atau konselor.
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti depresan.
6. Lakukan rujukan agar ibu mendapat perawatan yang intensif.

C. Psikosis Post Partum Psikosis post partum merupakan depresi yang paling berat, yang biasanya terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.
Psikosis post partum ini disebabkan oleh beberapa faktor-faktor penyebab depresi ini dapat terjadi, diantaranya:
1. Faktor sosial kultural.
2. Faktor obstetrik dan ginekologik.
3. Karakter personal.
4. Perubahan hormonal yang cepat.
5. Marital disfungsion (suatu keadaan dimana ibu tidak mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain).
6. Unwanted pregnancy (kehamilan tidak diinginkan)
7. Merasa terisolasi. Psikosis post partum ini ditandai dengan gejala-gejala yang timbul sebagai berikut :
1. Curiga yang berlebihan.
2. Kebingungan.
 3. Sulit berkonsentrasi.
4. Bicara meracau atau inkoheren (berbicaranya kacau).
5. Pikiran obsesif (ingin bunuh diri).
 6. Impulsif (melakukan tindakan tanpa disadari).

Penanganan atau penatalaksanaan dari psikosis post partum yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
2. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti depresan.
3. Lakukan rujukan ke rumah sakit guna perawatan lebih lanjut.

Contoh kasus Ketika Melanie Stove menjadi hamil, dia memiliki segalanya. Dia adalah seorang dokter sukses bahagia menikah dengan manajer penjualan farmasi. Dia memiliki keluarga yang mendukung. Dia adalah seorang wanita hamil berseri-seri, ingin memiliki anak dan memulai kehidupan barunya sebagai seorang ibu. Pada tanggal 23 Februari 2001, Summer Moose lahir dengan keadaan tidak normal, yaitu cacat Down Syndrom yang baru diketahui setelah melahirkan. Tapi ibu Melanie, Carol, menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya. Melanie, seperti tidak mau menerima keberadaan bayinya. Melani meyakinkan dirinya bahwa bayinya seharusnya lahir dengan keadaan atau kondisi yang normal karena dia adalah seorang tenaga kesehatan yang seharusnya tahu bagaimana cara merawat kehamilannya. Melani mengalami masalah psikis atau mental yaitu tekanan yang mendalam pada kenyataannya bahwa dia adalah seorang dokter yang lalai menerapkan ilmu kesehatan. Melani sangat depresi, malu, dan tidak percaya diri lagi karena pernyataan orang-orang disekitarnya yang menganggap dia adalah seorang dokter yang tidak professional. Melani masih tidak dapat menerima kondisi anaknya. Ketika Summer berumur satu bulan, depresi Melanie menjadi begitu parah sehingga ia berhenti makan dan minum dan tidak bisa lagi menelan. Dia mulai memiliki pikiran paranoid tentang orang lain - dia berpikir bahwa tetangganya di seberang jalan semua membicarakannya karena mereka pikir dia adalah ibu yang buruk. Dia menjadi kurus dan merasa ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang dokter. Lalu, ia mulai mencari cara untuk mengakhiri hidupnya. Melanie dirawat di rumah sakit tiga kali dalam tujuh minggu. Dia diberi empat kombinasi anti-psikotik, anti-kecemasan, dan obat anti-depresan. Namun keluarganya sudah dapat menerima kondisi anak Melani, walaupun Melani sebagai ibunya sendiri belum dapat menerima kondisi anaknya.  

Pemecahan masalahnya :
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenali dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Anak yang mengalam sindrom down umumnya mengalami kelemahan otot, mulut yang terbuka, lidah yang terjulur, ukuran telinga yang abnormal, gangguan pendengaran, mengalami gangguan penglihatan, dan sebagainya. Intervensi dini yang kita lakukan adalah jika anak tersebut misalnya: mengalami gangguan pendengaran, dapat melakukan pemeriksaan telinga sejak awal kehidupan dilakukan test pendengaran secara berkala, atau jika anak mengalami kelainan mata dapat dilakukan pemeriksaan yang rutin ke dokter mata. Memberikan lingkungan yang baik bagi anak, memberikan aktivitas motorik kasar dan halus dengan bermain dengan teman sebayanya, dan peran orang tua sangat dibutuhkan. Dari kasus ini, ibu Melani harus diberi banyak dukungan dan pengertian dari orang-orang terdekatnya seperti suami, keluarga, maupun orang-orang disekitarnya, bahwa kelalaian adalah manusiawi. Sebagai sesama tenaga kesehatan kita sebagai bidan harus saling menguatkan dengan memberi penyuluhan tentang penyakit-penyakit yang dapat terjadi di saat masa kehamilan sampai masa nifas, memberi tahu disekitar lingkungan masyarakat ibu Melani tentang sebenarnya down sindrom itu sendiri tidak diketahui selama kehamilan, maka sepenuhnya hal ini tidak harus menjadi beban psikis bagi ibu, karena memang bukan kesalahannya.. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri dokter Melani, kita bisa membantu dia dengan memberikan konseling dan membantu memantau perkembangan anaknya dan tentunya memberi semangat pada dokter Melani untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter tanpa terus-terusan menyalahkan diri sendiri.  

o Gangguan psikologis masa nifas yaitu dimana ibu nifas usdah mampu menyesuiakan diri dengan perubah-perubahan yang terjadi setelah melahirkan. Gangguan psikologis pada masa nifas terbagi menjadi : post partum blues, depresi postpartum, dan psikosis post partum.
o Gangguan psikologi post partum diantaranya depresi post partum,post partum blues, post partum psikosa.
o Post partum blues (PBB) sering juga disebut sebagai maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindrom gangguan efelk ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan.
 o Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari, dapat terjadi kapanpun bahkn sampai satu tahun kedepan
 o Psikosis post partum adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam enam minggu setelah melahirkan.
o Setiap jenis gangguan psikologis pada ibu nifas memiliki penanganan yang berbeda pula disesuaikan dengan keadaan yang dialami oleh ibu nifas.
 o Gangguan psikologis bila tidak ditangani secara tepat maka akan membahayakan kondisi ibu dan bayinya.
 B. Saran Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan kebidanan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  

Referensi :
 o Ambarawati, Eny Ratna dan Wulandari, Diah. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Nuha Medika.
o Suherni et al. 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarata: Fitramala.
o http://susanthy123.blogspot.com/p/makalah-masalah-masalah-dalam-masa.html

o Vivian Nanny Lia Dewi, Tri Sunarsih.2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta: Salemba Medika.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar